[SIRI PERANGI SYIAH] : KEYAKINAN SYIAH TERHADAP PARA SAHABAT DAN ISTERI-ISTERI NABI - FAKTA KETIGA

Oleh : Keris Research Institute for Syiah Ideology (KERiS)

FAKTA KETIGA

Syi’ah bercerita tentang keyakinan mereka mengenai para sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan ummahatul mu’minin

Keutamaan sahabat Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan tingginya kedudukan serta darjat mereka, sudah merupakan sesuatu yang diketahui oleh semua orang. Hal itu juga termasuk hal-hal yang diketahui dari agama Islam secara umum. Ini disebabkan kerana banyaknya dalil-dalil yang menunjukkan hal tersebut, baik dari Al Quran mauhpun As Sunnah. Sekarang bukan waktunya untuk menyebutkan semua dalil-dalil itu, akan tetapi barangkali kami akan menyebutkan sebahagian sahaja:

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,


مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ تَرَاهُمْ رُكَّعاً سُجَّداً يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَاناً سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ذَلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ وَمَثَلُهُمْ فِي الْأِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَى عَلَى سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْراً عَظِيماً



“Muhammad itu adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari kurnia Allah dan keridhaan-Nya. Tanda-tanda mereka, tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya, maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, kerana Allah menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh diantara mereka keampunan dan pahala yang besar.” (Al Fath: 29)

Ayat yang mulia ini mencakupi seluruh sahabat kerana mereka semua bersama Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Menguatkan apa yang telah lalu: hadis yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim; dari al-A’masi, dari Abu Salih, dari dari Abu Sa’id dia berkata: Pada suatu saat terjadi suatu masalah antara Khalid bin Walid dengan Abdurrahman bin ‘Auf, lantas Khalid memaki Abdurrahman. Ketika mendengar hal itu, Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku, sesungguhnya jika salah seorang dari kalian menafkahkan emas sebesar gunung Uhud niscaya tidak akan dapat menyamai (pahala) satu genggam atau setengah genggam (nafkah) salah seorang dari mereka.” Hadis ini juga mencakup seluruh sahabat, kerana Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian memaki salah seorang dari sahabatku.”

Syi’ah dan Penghinaan Mereka Terhadap Sahabat Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam

Dalam kitab ar-Raudhah min al-Kafi (hal 245) disebutkan, "Dari Hanan, dari bapanya, dari Abu Ja’far ‘alaihis salam, ia berkata, “Sesungguhnya para manusia telah murtad sesudah wafatnya Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya tiga orang.” Lantas aku bertanya: “Siapakah tiga orang itu?” Dia menjawab: “Al-Miqdad bin al-Aswad, Abu Dzar al-Ghifary dan Salman al-Farisi”.

Ash-Shafi dalam tafsirnya (jilid V, hal 28) berkata, "Dari Abdurrahman bin Katsir, dari Abu Abdillah, dalam firman Allah (yang ertinya), “Sesungguhnya orang-orang yang kembali ke belakang (kepada kekafiran) sesudah petunjuk itu jelas bagi mereka, syaitan telah menjadikan mereka mudah (berbuat dosa) dan memanjangkan angan-angan mereka.” (Muhammad: 25). Dia berkata, “fulan dan fulan”, yang dia maksud adalah Abu Bakar dan Umar.

Berkata Ni’matullah al-Jazairi dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 53), "Telah diriwayatkan dalam berita-berita khusus bahwa tatkala Abu Bakar solat di belakang Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menggantungkan berhala di lehernya, dan sujudnya adalah untuk berhala itu". Na’udzubillah dari kedustaan ini!

Dengarlah salah seorang syaikh orang Syi’ah yang tanpa berselindung melaknat As Siddiq, "Para ulama Syi’ah telah bersaksi bahawa ada riwayat-riwayat sahih yang kesahihannya melahirkan dalil-dalil atas si penjahat Abu Bakar, hal tersebut kerana adanya dia di masjid dan kembalinya dia dari pasukan pertama. Kedua melanggar Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketiga tidak solatnya dia bersama Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam. Semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dengarlah wahai siapa yang berkata, Tidak boleh melaknat. Semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar!, semoga Allah melaknat Abu Bakar! Dan semoga Allah melaknat Umar dan para pembangkang lainnya! Semoga Allah melaknat siapa saja yang tidak rela dengan dilaknatnya mereka!" Begitulah kebencian-kebencian umat ini.

Dengan busuknya Ni’matullah al-Jazari berkata dalam kitabnya al-Anwar an-Nu’maniyah (jilid I, hal 63), "Konon Umar terkena penyakit di duburnya dan tidak boleh disembuhkan kecuali dengan air mani para lelaki".

Berkata Zainudin al-Bayadhi dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 129), "Sebenarnya Umar itu telah menyembunyikan kekufuran dan memperlihatkan keislaman".

Dalam kitab al-Anwar an-Nu’maniyah milik Ni’matullah al-Jazairy (jilid I, hal 81) disebutkan, "Telah disebutkan dalam riwayat-riwayat khusus bahwasanya syaitan dibelenggu dengan 70 belenggu dari besi jahanam lantas dibawa ke padang masyar, tiba-tiba sesampainya di sana dia melihat seseorang di depannya yang ditarik oleh malaikat azab dan di lehernya terdapat 120 belenggu dari belenggu-belenggu jahanam, dengan kehairanan syaitan itu mendekatkan dirinya lantas bertanya, “Apa yang dikerjakan orang yang amat malang ini hingga seksaannya jauh lebih berat dariku? Padahal aku telah menyesatkan para makhluk hingga aku masukkan mereka ke dalam pintu-pintu kebinasaan.” Maka berkatalah Umar (Maksudnya makhluk malang yang dibelenggu dengan 120 rantai neraka jahanam adalah amirul mu’minin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu! Qaatalahumulloh! kepada si syaitan, “Tidak ada yang kukerjakan melainkan hanya merampas kekhilafahan Ali bin Abi Thalib”.

Di antara yang dituduhkan gerombolan orang-orang Rafidhah terhadap amirul mukminin Usman bin Affan radhiallahu ‘anhu; apa yang disebutkan oleh Zainuddin al-Bayadhi dalam kitabnya ash-Shirath al-Mustaqim ila Mustahiq at-Taqdim (jilid III, hal 30), "Pada suatu saat di zaman Usman didatangkan seorang perempuan untuk dihukum hadd, lantas Usman berzina dengan perempuan tersebut sebelum diperintahkan untuk perempuan tersebut dizinai terlebih dahulu baru kemudian diperintahkan untuk direjam".

Bahkan dalam kitab yang sama dan halaman yang sama disebutkan bahwa Usman itu termasuk orang-orang yang dipermainkan (para laki-laki) dan bertingkah laku seperti perempuan, serta suka main rebana.

Dengarlah bagaimana Hasan ash-Shaffar berbangga kerana Rafidhah-lah yang telah membunuh Usman radhiallahu ‘anhu, "Sesungguhnya Syiah-lah yang telah membunuh Usman, semoga Allah memberikan pahala yang baik buat mereka".

Al-Majlisi dalam kitabnya Bihaar al-Anwar (jilid XXX, hal 237) berkata, "Kisah-kisah yang menerangkan kekafiran Abu Bakar dan Umar, penyelewengan mereka, serta pahala orang yang melaknat dan berlepas diri dari mereka dan dari bid’ah-bid’ah mereka, sangat banyak untuk disebutkan dalam satu jilid atau dalam buku yang berjilid-jilid lainnya".

Muhammad al-’Ayasyi dalam tafsirnya (jilid III, hal 20) surat an-Nahl:


وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاء وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ



“Dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan.” (An Nahl: 90)

Al-’Ayasyi berkata: Al- Fahsyaa (perbuatan keji) iaitu yang pertama (maksudnya Abu Bakar), al-Munkar (kemungkaran) iaitu yang kedua (maksudnya Umar al-Faruq), al-Baghi (permusuhan) iaitu yang ketiga (maksudnya: Usman bin Affan).

Semoga Allah meredhai seluruh shahabat.

Bahkan al-Majlisi dalam (jilid XXX, hal 235) menukil dari Tafsir al-Qummy dalam firman Allah ta’ala,


قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ



“Katakanlah: aku berlindung dari Rabb al Falaq.”

Al-Falaq adalah kawah di Jahanam, seluruh penghuni neraka memohon perlindungan kepada Allah darinya kerana dasarnya yang terlalu panas, lantas kawah itu minta izin untuk bernafas, maka diizinkanlah, akibatnya terbakarlah neraka jahanam. Dan di dalam kawah tersebut ada sebuah peti yang mana penghuni kawah tersebut memohon perlindungan kepada Allah darinya kerana kepanasan dasarnya. Peti itulah yang dinamakan Tabut. Di dalam Tabut itu ada enam orang terdahulu dan enam orang yang hidup setelah zaman mereka. Adapun enam orang yang hidup setelah zaman mereka adalah: nombor pertama, kedua, ketiga dan keempat. Yang pertama maksudnya Abu Bakar, yang kedua maksudnya Umar, yang ketiga Usman dan yang keempat Mu’awiyah radhiallahu ‘anhum.

Al-Majlisi berkata dalam (jilid XXX, hal 237), "Keterangan tentang dua orang Arab badwi yang pertama dan kedua -yakni Abu Bakar dan Umar-, yang tak pernah beriman kepada Allah sekejap mata pun". Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup Rafidhah sampai sini, bahkan mereka melampaui batas hingga ‘menyerang’ Ummahatul Mukminin. Berkata Ja’far Murtadho dalam bukunya Hadis al-Ifki (hal 17), "Sesungguhnya kami menyakini, sebagaimana (keyakinan) para ulama-ulama besar kami pakar pemikiran dan penelitian, bahawa isteri Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam pun berpeluang untuk kafir sebagaimana isteri Nuh dan isteri Luth", dan yang dimaksud isteri Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam di sini adalah ‘Aisyah. Hasyim al-Bahrani berkata dalam tafsirnya al-Burhan (jilid IV, hal 358) surat at-Tahrim, "Berkata Syarafuddin an-Najafy, “Diriwayatkan dari Abu Abdillah ‘alaihis salam bahwa dia berkata dalam firman Allah subhanahu wa ta’ala:


ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلاً لِلَّذِينَ كَفَرُوا امْرَأَتَ نُوحٍ وَامْرَأَتَ لُوطٍ



“Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir.” (At Tahrim: 10)

Perumpamaan ini Allah buat untuk Aisyah dan Hafshah, kerana keduanya berdemo terhadap Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan membuka rahasianya.

Ali bin Ibrahim al-Qummy berkata, "Lantas Allah membuat perumpamaan untuk ‘Aisyah dan Hafshah dan ia berkata, “Allah membuat isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba-hamba kami, lalu kedua isteri itu berkhianat.” Demi Allah yang dimaksud dengan berkhianat tidak lain hanyalah berzina (na’udzubillah). Niscaya akan dilakukan hukum had atas fulanah (yang dia maksud adalah ‘Aisyah) atas apa yang dikerjakannya di jalan Bashrah. Dikisahkan bahawa fulan (yang dimaksudkan Thalhah) mencintai ‘Aisyah. Tatkala ‘Aisyah akan safar ke Bashrah, berkatalah Thalhah, “Kamu itu tidak boleh safar kecuali dengan mahram.” Lantas Aisyah mengahwinkan dirinya dengan fulan, dalam suatu naskah disebutkan dengan Thalhah."

Berkata Muhammad al-‘Ayasyi dalam tafsirnya (jilid XXXII, hal 286) surah Ali Imran, dari Abdush Samad bin Basyar dari Abi Abdillah radhiallahu ‘anhu ia berkata, “Tahukah kalian Nabi itu meninggal atau dibunuh? Sesungguhnya Allah berfirman,


أَفَإِنْ مَاتَ أَوْ قُتِلَ انْقَلَبْتُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ



“Apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad).” (Ali Imran: 144). Sesungguhnya Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam telah diracuni sebelum wafatnya, dan mereka berdualah yang meracuninya (yakni ‘Aisyah dan Hafshah)! Sesungguhnya dua perempuan tersebut dan bapak mereka adalah sejahat-jahat ciptaan Allah! Wa la haula wa la quwwata illa billah!

Belum cukup al-Majlisi sampai di situ, bahkan dia berkata dalam kitabnya Bihar al-Anwar (jilid XXXII, hal 286), "Dari Salim bin Makram dari bapaknya ia berkata, Aku mendengar Abu Ja’far ‘alaihis salam berkata di dalam firman Allah,


مَثَلُ الَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِ اللَّهِ أَوْلِيَاءَ كَمَثَلِ الْعَنْكَبُوتِ اتَّخَذَتْ بَيْتاً وَإِنَّ أَوْهَنَ الْبُيُوتِ لَبَيْتُ الْعَنْكَبُوتِ



“Perumpamaan orang-orang yang mengambil perlindungan-perlindungan selain Allah adalah seperti labah-labah yang membuat rumah, dan sesungguhnya rumah yang paling lemah ialah rumah labah-labah.” (Al Ankabut: 41). Labah-labah itu adalah al-Humaira (Aisyah). Kenapa dimisalkan dengan laba-laba? Kerana dia adalah binatang yang lemah dan membuat sarang yang lemah; begitu pula al-Humaira (yakni Aisyah), dia itu binatang yang lemah, lemah kedudukan dan akal serta agamanya. Hal itu menjadikan pendapatnya lemah dan akalnya yang tolol, hingga melakukan pelanggaran dan permusuhan terhadap Tuhannya. Persis dengan sarang labah-labah yang lemah!".

Post a Comment

0 Comments