ARTIKEL TERKINI

SUNNAH

SYIAH

SASTERA

EBOOK

Tuesday, 18 August 2015

SIKAP AHLI SUNNAH TERHADAP PEMERINTAH

Sikap Ahli Sunnah Wal-Jamaah, ialah mencintai saudara seagama yang tidak akan dipertikai dan dipersoal siapa dan apa kedudukannya. Mereka sentiasa mendoakan akan kesejahteraan, kemakmuran dan keselamatan saudara-saudaranya yang seagama, senegara, dan para pemimpinya. Mereka menyeru sekalian umat Islam supaya saling mencintai antara satu sama lain dan mencintai pemimpin yang menjadi saudaranya dalam Islam. Ini semua dirasakan semata-mata kerana mencintai Allah.

Sikap Ahli Sunnah Wal-Jamaah ialah suka menasihati para pemimpin mereka jika didapati pemimpinnya melakukan kesilapan, kerana kebaikan pemimpin akan memberi manfaat kepada seluruh saudara-saudaranya (rakyat jelata) yang dilindungi oleh pemimpin.

TETAPI SIKAP AHLI BID'AH sebaliknya, amat bertentangan dengan sikap Ahli Sunnah Wal-Jamaah terhadap saudara-saudara seagama dan kerajaannya jika mereka tidak mengikut aliran ideologinya.

Adapun tanda-tanda besar yang menunjukkan bahawa seseorang atau sesuatu kelompok itu dari golongan mubtadik [I]"Aktivis atau Pembuat Bid'ah"[/I], ialah mereka yang berusaha dengan berbagai-bagai cara supaya rakyat membenci dan menghancurkan pemimpin Islam.

Antara cara mereka yang terkutuk ialah dengan bertopengkan ibadah, iaitu mempengaruhi rakyat dengan cara mengajak mereka bersembahyang hajat dan berdoa beramai-ramai agar ditimpakan kecelakaan, kehancuran atau kejatuhan keatas pemerintah walaupun mereka tahu pemimpin yang hendak dijatuhkan itu seorang beragama Islam.

Mereka mengHALALkan perlakuan apa sahaja cara dengan beralaskan bahawa pemerintah tersebut tidak berhukum dengan hukum Allah, kafir, zalim, dan fasik. Nabi Muhammad S.A.W telah menceritakan dengan sabdanya tentang sikap manusia seperti ini yang suka menghancurkan orang lain :

"Dari Abu Hurairah berkata : Bersabda Rasulullah S.A.W, : Apabila seseorang berkata: Binasalah manusia, maka dialah yang akan binasa" [H/R Muslim.]

Imam Al-Barbahary berkata :

"Jika kamu mendengar seseorang suka mendoakan kecelakaan terhadap penguasa (pemimpin), maka ketahuilah bahawa dia adalah pengikut hawa nafsu (pembuat/aktivis bid'ah)" [Rujuk, Al-Ibanah. Jilid 2. Halaman.116. No.136.]


"Akan muncul selepas peninggalanku seseorang pemimpin, maka muliakanlah dia, dan barang siapa yang mencari-cari kehinaanya (kesalahan dan keaibannya) bererti dia telah melubangi satu sendi dalam Islam dan tidak akan diterima taubatnya sampailah dia (mengembalikan keadaan sebagaimana sediakala)" [Lihat: As-Sunnah (2/513) Dari Ibn Abi' Asim. Sanad hadis ini sahih.]

Ibn Qayyim telah menjelaskan bagaimana sewajarnya sikap para ulama Ahli Sunnah Wal-Jamaah dan orang-orang awam yang beriman terhadap para pemimpin dan ketua pemerintahan yang masih beriman kepada agama Allah (Islam):

Apabila mengikuti (mentaati) hadis Nabi (tentang negara atau pemerintah yang beragama Islam): Semestinya menasihati pemimpin-pemimpin kaum muslimin, hadis ini (yang memerintahkan agar mendekati dan menasihati pemimpin Islam) mengandungi maksud agar menghilangkan sifat iri hati dan dengki, kerana nasihat tidak mungkin bersatu dengan kedengkian, sebaliknya ia melawan rasa kedengkian. Oleh itu sesiapa yang menegakkan nasihat kepada para pemimpin Islam dan rakyat biasa, bermakna dia terlepas dari sifat dengki." [Lihat : Miftah Dar Al-Sa'adah. Jld halaman 73.]

Adalah haram hukum bagi sesiapa yang mahu menjatuhkan para pemimpin , kerana menjatuhkan dia sama dengan merampas kuasa dan menumbangkan kekuasaan yang ada pada tangan mereka yang menyebabkan negara akan menjadi kacau bilau, perbalahan, perpecahan, dan kemusnahan kepada Umat dan Agama Islam itu sendiri.

Tugas Ulama ialah mendidik rakyat dengan menyebarkan SEGALA KEBAIKAN PEMERINTAH, MENGENANG BUDI DAN JASA DIATAS pembanggunan yang telah diusahakan dan bersyukur kepada Allah, berterima kasih dan menjauhkan dirinya dari menyebarkan keburukan pemerintah, kerana mereka beragama Islam. Maka perbuatan keji Ulama Bid'ah, bertentangan dengan etika dan amalan Ahli Sunnah Wal-Jamaah.

Firman Allah dalam surah An-Nur ayat 24:19 yang bermaksud :

"Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang keji itu tersiar dikalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka Azab yang pedih di dunia dan akhirat. Dan Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui"

Waallahua'lam.

2 comments:


  1. ISLAM AGAMA UNIVERSAL YANG TIDAK MENGANUT PAHAM MESIANISME!

    SETIAP SEORANG MUSLIM BERHAK SEBAGAI TOKOH PENERUS ESTAFET KEPEMIMPINAN MUHAMMAD SAW


    Bagian dua dari dua tulisan

    Nah kalau masalah istilah keturunan Ahlul Bait, nabi dan rasul sudah terjawab maka soal apa lagi yang harus kita perpanjang? Wah katanya soal kepemangkuan kekuasaan kekhalifahan ya juga dalam Al Quran sudah jelas kedudukannya bahwa khalifah yang ada sejak era Nabi Daud As. sampai pada Nabi Muhammad SAW otomatis para nabi tersebut adalah sang khalifah [TQS. Shad, 38:26] sampai ditutupnya misi kenabian pada era Nabi Muhammad SAW kita [TQS. Al Ahzab, 33:40]. Sudah itu?


    Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:


    ليس مِن رجلٍ ادَّعى لغير أبيه وهو يَعلَمه إلاَّ كفر بالله، ومَن ادَّعى قوماً ليس له فيهم نسبٌ فليتبوَّأ مقعَدَه من النار ))، رواه البخاريُّ (3508)، ومسلم (112)، واللفظ للبخاري


    “Tidak ada seorangpun yang (boleh berhak) mengaku (orang lain) sebagai ayahnya, padahal dia (amat) tahu (pasti kalau itu bukan ayahnya), melainkan (dia) telah (berbuat) kufur (nikmat) kepada Allah. Orang yang mengaku-ngaku keturunan dari sebuah kaum (dinasti keturunan), padahal bukan (termasuk dinasti keturunannya), maka siapkanlah (kelak di akahirat) tempat duduknya di neraka” (HR. Bukhari dan Muslim).


    Dan Dia lah yang menjadikan kamu khalifah-khalifah (penguasa-penguasa, ada yang jadi raja, sultan, presiden, gubernur dll.) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang [a.l. TQS. 6:165, 10:13-14 dll. rujuk TQS. 3:144].

    Ayat-ayat di atas di dukung dengan Hadits Nabi Muhammad SAW sbb.:

    42. 118/3196. Telah bercerita kepadaku Muhammad bin Basysyar telah bercerita kepada kami Muhammad bin Ja'far telah bercerita kepada kami Syu'bah dari Furat Al Qazaz berkata, aku mendengar Abu Hazim berkata; Aku hidup mendampingi Abu Hurairah radliallahu 'anhu selama lima tahun dan aku mendengar dia bercerita dari Nabi shallallahu 'alaihi wasallam yang besabda: Bani Isra'il, kehidupan mereka selalu didampingi oleh para Nabi, bila satu Nabi meninggal dunia, akan dibangkitkan Nabi setelahnya. Dan sungguh tidak ada Nabi sepeninggal aku. Yang ada adalah para khalifah (ya bisa raja, sultan, presiden, kanselir, gubernur, bupati atau walikota) yang banyak jumlahnya. Para shahabat bertanya; Apa yang baginda perintahkan kepada kami?. Beliau menjawab: Penuihilah bai'at kepada khalifah yang pertama (lebih dahulu diangkat), berikanlah hak mereka karena Allah akan bertanya kepada mereka tentang pemerintahan mereka.

    Kesimpulan:

    Siapa saja yang ‘ngaku’ MUSLIM lalu dianugerahi dianya sebagai ‘ORANG NOMOR SATU’ atau penguasa maka dia adalah ‘sang’ KHALIFAH tidak ada harus berdasarkan pada 'keturunan' seperti keturunan AHLUL BAIT, NABI atau RASUL sekali pun, dan apakah lebel penguasanya sebagai presiden, raja atau kanselir dll. atau dia berkuasa di negara bernama ISLAM atau tidak atau bermerek KHILAFAH atau DAULAH ISLAMIYAH atau tidak, ya mutlak harus mengacu pada Al Quran dan As Sunnah.

    Soal si tokoh ini mau atau tidak mau menerapkan syariat Islam atau mampu atau tidak mampu menerapkan syariat Islam ya itu mutlak merupakan tanggungjawabnya sendiri yang berkeinginan untuk menjadi sang KHALIFAH atau tokoh nomor satu beserta para kelompok pendukungnya disuatu atau di dalam wilayah kekuasaannya masing-masing. Wajib baginya merujuk pada prinsip-prinsip Al Quran a.l. seperti QS. 38:26, 6:165, 10:13-14 dan 35:39 serta a.l. hadits dari Nabi Muhammad SAW di atas.

    Dan Kami tidak mengutus kamu (Hai Muhammad), melainkan kepada umat manusia seluruhnya (sampai kiamat) sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.[TQS. Saba, 34:28]

    *) http://www.kabarmakkah.com/2015/02/23-oktober-2015-imam-mahdi-akan-muncul.html

    **) http://detikislam.blogspot.co.id/2012/06/dunia-menanti-kedatangan-imam-mahdi.html#

    ReplyDelete
  2. ISLAM AGAMA UNIVERSAL YANG TIDAK MENGANUT PAHAM MESIANISME!

    SETIAP SEORANG MUSLIM BERHAK SEBAGAI TOKOH PENERUS ESTAFET KEPEMIMPINAN MUHAMMAD SAW


    Bagian satu dari dua tulisan

    BARACK OBAMA atau VLADIMIR PUTIN atau BASUKI TJAHAJA PURNAMA alias AHOK sekalipun, kalau mereka 'mengaku' sebagai SEORANG MUSLIM maka mereka 'suka atau tidak suka' dalam prinsip ISLAM adalah KHALIFAH atau sebagai tokoh Muslim yang berjiwa dan bersemangat sebagai KHALIFAH di daerah dan dalam wilayah kewenangan masing-masing


    “… Pada hari ini orang-orang kafir (non-Muslim) telah putus asa untuk (mampu mengalahkan atau menghancurkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut (lahir batin) kepada mereka dan (hendaklah hanya) takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan (sesempurnanya hukum-hukum Allah) untuk kamu (Hai Muhammad dan umat) agamamu (diinikum), dan telah Ku-cukupkan kepadamu ni'mat-Ku, dan telah Ku-ridhai (waradhiitu hanya) ISLAM itu jadi (diinikum) agama bagimu…”. [TQS. Al Maidah, 5:3]

    Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul. (Lalu) apakah jika dia wafat atau dibunuh (apakah) kamu berbalik ke belakang (murtad, kafir)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak (akan) dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah (hanya) akan memberi balasan kepada orang-orang yang (panmdai) bersyukur. [TQS. Al-'Imran, 3:144]

    (Muhammad) itu sekali-kali bukanlah (tidak lagi menjadi hanya) bapak (dari suatu dinasti nasab atau keturunan) dari (hanya kelompok atau beberapa orang atau) seorang laki-laki (apa lagi perempuan) di antara kamu (wahai para ahlul bait dan umatnya), tetapi dia adalah Rasulul Allah (Utusan Allah bagi semua umat manusia yang mengikutinya) dan (dia juga adalah) penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. [TQS. Al Ahzab, 33:40]

    Tidak ada dinasti keturunan soal Pewaris Estafet Kepemimpinan dalam menjaga Islam dan Misi Muhammad SAW serta menjaga nasib umat Muslim

    http://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/antara-khilafah-dan-khalifah.htm#.VjQCHm5KXAR

    Kalau kita mau jujur maka biang kerok atau hakikat perseteruan antara pihak yang mengaku Sunni dengan yang mengaku Syiah adalah perebutan kekuasaan kekhalifahan, baik sejak proses penentuan sang khalifah pertama Abu Bakar dan terlebih lagi pasca Khalifah Ali bin Abi Thalib. Bumbu dari peruncingan masalah ini, ya seolah-olah adanya suksesi kepemimpinan dari Nabi Muhammad SAW pada Ali bin Abi Thalib, sang keponakan sekaligus adanya anggapan masuk dinasti Ahlul Bait serta anggapan keturunan 'nabi' bahkan keturunan rasul dibuktikan adanya peristiwa Ghadir Khum pada bulan terakhir tahun ke-10 Hijriah, setelah Rasul Muhammad saw menjalankan Haji Perpisahan/Terakhir (Hajjatul Wada’).


    Jika Ali bin Abi Thalib dianggap masuk kriteria dinasti Ahlul Bait juga tak punya dalil yang kuat karena dalam Al Quran dari TQS. Hud, 11:73, Al Qashash, 28:12 dan Al Ahzab, 33:33 istilah sudara sepupu tidaklah masuk dalam dinasti Ahlul Bait Muhammad SAW. Selanjutnya jika dianggap masuk ke dalam keturunan Ahlul Bait, nabi atau rasul, rasanya dalam Al Quran bahkan tidak dikenal adanya istilah 'keturunan' (baca keturunan) ahlul bait, nabi apa lagi keturunan rasul. Yang ada hanya istilah keturunan Adam, keturunan Ibrahim atau keturunan Israil [TQS. Maryam, 19:58] bahkan hebatnya dalam Al Quran kita tidak ada istilah 'keturunan Muhammad'.

    Kisah di atas nampaknya merupakan pengulangan sejarah peradaban umat manusia khususnya di era sebelum era Umat Muhammad SAW seperti kasus dinasti Keturunan Ibrahim As antara anaknya Nabi Ismail As dan Nabi Ishak As. atau kasus kisah THalut dan Jalutnya.

    http://www.lampuislam.org/2014/01/kisah-talut-dan-daud-melawan-jalut-saul.html


    ReplyDelete

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PenaMinang.com tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui ruangan ini. Ia pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

Segala caci maki, kutukan, fitnah adalah antara anda dengan ALLAH Azza Wa'jal. Berilah komen dan kritikan yang membina. Insyallah kami akan cuba membalas komen-komen anda.

© 2008-2016 Pena Minang Institute