ARTIKEL TERKINI

SUNNAH

SYIAH

SASTERA

EBOOK

Sunday, 7 February 2016

@CTNurhaliza11 LAIN KALI SELIDIK DAHULU BERITA YANG ANDA TERIMA



Oleh : Dr. Abdul Azhim Al Badawi

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering mendengar sesuatu berita atau desas-desus yang tidak jelas asal-usulnya. Kadangkala dari suatu peristiwa kecil, tetapi dalam laporan berita, peristiwa itu begitu besar atau sebaliknya. Kadangkala juga berita itu bersangkutan dengan kehormatan seseorang muslim. Bahkan tidak jarang, sebuah rumah tangga menjadi retak, hanya kerana sebuah berita yang belum tentu benar. Bagaimanakah sikap kita terhadap berita yang bersumber dari orang yang belum kita ketahui kejujurannya? 

Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap berita-berita yang belum jelas kebenarannya itu. 

Allah berfirman,


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti, agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu". [Al Hujurat : 6].

Dalam ayat ini, Allah melarang hamba-hambanya yang beriman berjalan mengikut dakwaan semata-mata. Allah menyuruh kaum mukminin memastikan kebenaran berita yang sampai kepada mereka. Tidak semua berita yang diucapkan itu benar, dan juga tidak semua berita yang terucapkan itu sesuai dengan fakta. (Ingatlah!!!) musuh-musuh kalian senantiasa mencari kesempatan untuk menguasai kalian. Maka wajib atas kalian untuk selalu berwaspada, hingga kalian boleh mengetahui orang yang hendak menebarkan berita yang tidak benar.

Allah berfirman,


يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا إِن جَآءَكُمْ فَاسِقُُ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

"Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti"

Maksudnya, janganlah kalian menerima (begitu saja) berita dari orang fasik, sampai kalian sudah melakukan pemeriksaan, penelitian dan mendapatkan bukti kebenaran berita itu.


(Dalam ayat ini) Allah memberitahu bahawa orang-orang fasik itu pada dasarnya (jika berbicara) maka dia berdusta, akan tetapi kadangkala ia juga boleh jadi benar. Kerana itu, berita yang disampaikan oleh seseorang fasiq itu tidak boleh diterima dan juga tidak ditolak begitu saja, kecuali setelah diteliti. Jika benar sesuai dengan bukti, maka diterima dan jika tidak, maka ditolak.

Kemudian Allah menyebutkan illat (sebab) perintah untuk meneliti dan larangan untuk mengikuti berita-berita tersebut. 

Allah berfirman.


أَن تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ 

"Agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya".

Kemudian nampak bagi kamu kesalahanmu dan kebersihan mereka.


فَتُصْبِحُوا عَلَى مَافَعَلْتُمْ نَادِمِينَ

"Yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu" [Al Hujurat : 6]

Sungguhnya betapa semua kaum muslimin memerlukan ayat ini, untuk mereka baca, renungi, lalu beradab dengan adab yang ada padanya. Betapa banyak fitnah yang terjadi akibat berita palsu yang disebarkan oleh orang fasiq yang jahat! Betapa banyak darah yang tertumpah, jiwa yang terbunuh, harta yang dirampas, kehormatan yang dicabul, akibat berita yang tidak benar! Berita yang dibuat oleh para musuh Islam dan musuh umat ini. Dengan berita itu, mereka hendak menghancurkan kesatuan umat ini, mencabik-cabiknya dan menyemarakkan api permusuhan diantara umat Islam. 


No comments:

Post a Comment

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PenaMinang.com tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui ruangan ini. Ia pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

Segala caci maki, kutukan, fitnah adalah antara anda dengan ALLAH Azza Wa'jal. Berilah komen dan kritikan yang membina. Insyallah kami akan cuba membalas komen-komen anda.

© 2008-2016 Pena Minang Institute