ARTIKEL TERKINI

SUNNAH

SYIAH

SASTERA

EBOOK

Wednesday, 13 August 2014

SEGERA NIKAH DAN MUDAHKAN PERNIKAHAN

Transliterasi oleh : Jebat

Sesungguhnya pernikahan adalah kenikmatan yang besar yang Allah anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya baik lelaki mahupun perempuan. Allah telah menghalalkan pernikahan, memerintahkannya, dan mencintai amalan ini. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,


فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ مَثْنَى وَثُلاثَ وَرُبَاعَ فَإِنْ خِفْتُمْ أَلا تَعْدِلُوا فَوَاحِدَةً أَوْ مَا مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ

“maka kahwinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kahwinilah) seorang saja, atau budak-budak yang kamu miliki.” (An-Nisa: 3)

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ

“Wahai para pemuda, barangsiapa di antara kalian yang memiliki kemampuan hendaklah dia menikah. Kerana menikah itu lebih menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah membantah sekelompok orang yang mengatakan: Orang pertama mengatakan, “aku akan solat dan tidak tidur”. Yang kedua mengatakan, “Aku akan terus berpuasa dan tidak berbuka”. Orang ketiga mengatakan, “Aku akan meninggalkan perempuan dan tidak akan menikah”. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Kalian yang mengatakan demikian dan demikian? Adapun aku demi Allah, sesungguhnya aku adalah orang yang paling takut kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, akan tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku solat dan aku pun tidur, dan aku menikahi wanita. Siapa yang membenci sunnahku, maka dia bukan termasuk golonganku”. (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad).

Selain sunnah dari penutup para nabi dan rasul, menikah juga merupakan sunnah dari rasul-rasul lainnya sebelum Nabi Muhammad. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan.” (Ar-Ra’du: 38).

Di dalam pernikahan terdapat manfaat yang besar dan kebaikan bagi jasmani. Menikah bererti merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya. Dengan merealisasikan perintah Allah dan Rasul-Nya maka kita akan mendapat rahmat, kejayaan di dunia dan akhirat. Bernikah adalah bukti kita mengikuti sunnah para nabi dan barangsiapa yang ketika di dunia meneladani para rasul, kelak akan dikumpulkan bersama mereka di akhirat. Bernikah itu menunaikan keperluan, mewujudkan kebahagiaan jiwa, dan menenangankan hati. Bernikah boleh membentengi kemaluan, menjaga kehormatan, menundukkan pandangan, dan menjauhkan diri dari fitnah.

Dengan menikah, ianya akan memperbanyak umat Islam, penambahan kuantiti akan memperkuatkan umat dan menimbulkan kewibawaan di hadapan umat lainnya. Menikah adalah perbuatan yang dibanggakan oleh Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat kelak dengan betapa banyaknya umat baginda. Baginda sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


تَزَوَّجُوا اَلْوَدُودَ اَلْوَلُودَ إِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمُ اَلْأَنْبِيَاءَ يَوْمَ اَلْقِيَامَةِ

“Nikahilah perempuan yang penyayang dan subur, kerana sesungguhnya aku berbangga dengan banyaknya jumlah kalian di hari kiamat kelak.” (HR. Ahmad, Annasa-i, dan Abu Dawud).

Apabila bernikah, maka akan terjalin hubungan kekerabatan dan mempereratkan hubungan antara sesama manusia, kerana sesuatu yang sangat mempengaruhi kedekatan hubungan antara sesama manusia adalah dekatnya nasab. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,


وَهُوَ الَّذِي خَلَقَ مِنَ الْمَاءِ بَشَرًا فَجَعَلَهُ نَسَبًا وَصِهْرًا وَكَانَ رَبُّكَ قَدِيرًا

“Dan Dia lah Tuhan yang menciptakan manusia dari air, lalu dijadikannya (mempunyai) titisan baka dan penalian keluarga (persemendaan); dan sememangnya tuhanmu berkuasa (menciptakan apa jua yang dikehendakiNya)..” (Al-Furqon: 54).

Yakni Allah menjadikan nasab sebagai pendekatan dan penyatuan hubungan. Hal itu terjadi dengan sebab ikatan pernikahan. Menikah juga akan mendatangkan pahala kerana memberikan hak kepada suami atau isteri, dan kepada anak dengan cara memberikan nafkah kepada mereka (atau isteri melayani suami). Menikah juga akan melapangkan rezeki dan menjadikan seseorang kaya, tidak seperti apa yang ditakutkan oleh orang-orang matrealis yang lemah keyakinan dan tawakalnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Allah Ta’ala berfirman,


وَأَنْكِحُوا الأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

“Dan kahwinkanlah orang-orang bujang (lelaki dan perempuan) dari kalangan kamu, dan orang-orang yang soleh dari hamba-hamba kamu, lelaki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya kerana Allah Maha Luas (rahmatNya dan limpah kurniaNya), lagi Maha Mengetahui.” (An-Nur: 32).

Di dalam hadis, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


ثلاثة حق على الله عونهم وذكر منهم الناكح يريد العفاف

“Tiga golongan yang pasti Allah menolong mereka (salah satunya): orang yang menikah kerana ingin menjaga kehormatan.” (HR. Ahmad, An-Nasa-I, Ibnu Majal, dan yang lainnya).

Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhuma berkata, “Allah Ta’ala mencintai pernikahan dan Dia menjanjikan kehidupan yang cukup bagi pelakunya dengan firman-Nya,


إِنْ يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ

“ Jika mereka miskin, Allah akan memberikan kekayaan kepada mereka dari limpah kurniaNya” (An-Nur: 32).

Ayyuhal ikhwah,

Sesungguhnya maslahat dari pernikahan sangatlah banyak. Tidak cukup waktu bagi kita untuk menghuraikan satu per satu pada kesempatan yang sempit ini. Bagi siapa yang hendak mengetahuinya lebih jauh, maka sebaiknya dia menelah buku-buku para ulama yang membahas permasalahan ini. Sesungguhnya, pernikahan itu adalah maslahat bagi individu dan masyarakat, dari sisi agama dan akhlak, dari tinjauan waktu sekarang mahupun yang akan datang. Kerana menikah mampu mencegah dari terjadinya mafsadat.

Ayyuhal ikwah,

Kita juga harus mengetahui hal-hal yang menyebabkan seseorang itu enggan menikah. Saat ini setidaknya ada dua faktor yang menonjol yang menyebabkan para pemuda meninggalkan pernikahan:

Pertama, para pemuda merasa terbeban dengan ikatan hubungan pernikahan.

Yakni, banyak anak-anak muda, baik lelaki mahupun perempuan tidak suka dengan hubungan pernikahan dengan alasan menikah akan mengganggu pelajaran mereka. Alasan ini adalah alasan yang keliru dan salah kerana menikah tidak menghalangi seseorang itu untuk menempuh alam pendidikan atau menjadi seorang yang gagal berprestasi dalam pendidikannya. Sedangkan pada hakikatnya dengan menikah, ianya dapat membantu kelancaran dan meningkatkan prestasi akademik seseorang. Apabila seseorang mendapatkan pasangan yang solehah, keduanya saling menghormati dan mencintai, maka setiap dari mereka akan menolong antara satu dengan yang lainnya dalam soal belajar dan menghadapi beban kehidupan. Banyak sekali orang yang menjadikan pernikahannya itu sebagai motivasi untuk lebih berjaya.

Betapa banyak pemuda, baik lelaki mahupun perempuan yang mendapatkan ketenangan fikiran dan jiwa dalam proses belajar lantaran sudah menikah. Bagi mereka yang tertipu dengan alasan buruk di atas, hendaknya mereka ini kembali berfikir semula dan memperbaiki pandangan mereka. Sehingga pemahaman mereka yang keliru itu menjadi kembali lurus. Hendaknya mereka berkonsultasi dengan teman-teman atau orang-orang terdekatnya, meminta pendapat mereka, dan bertanya tentang kebaikan dan ketenangan yang terdapat dalam pernikahan. Dengan perantara ini, niscaya hilanglah penghalang ini.

Bagi para wanita, hendaknya mereka merenungi kembali apa yang dia peroleh dari pendidikan tinggi? Lalu membandingkan dengan kebahagiaan yang dia korbankan kerana menunda pernikahan. Apabila –wal ‘iyadzubillah- umurnya telah lewat batas lalu dia kehilangan kesempatan untuk menimang anak dan jadilah dia perempuan tua yang hidup seorang diri. Bayangkan jika dia tidak berkesempatan berbahagia dengan kehidupannya (kerana tidak menikah) dan tidak memiliki anak yang akan mendoakannya setelah dia wafat.

Kedua, hal yang juga menyebabkan para pemuda meninggalkan pernikahan adalah kerana wali-wali yang zalim terhadap anak-anak perempuannya.

Mereka ini adalah para wali yang tidak takut kepada Allah, tidak menjalankan amanah yang Allah berikan kepada mereka, dan tidak memiliki rasa kasih sayang kepada sesama hamba Allah. Ketika ada seorang lelaki yang sekufu agama dan penampilannya datang melamar, para wali ini berfikir berulang-ulang lalu menunda-nuda keputusannya. Pada akhirnya, mereka mengatakan, anak saya masih belum cukup usia, belum ini dan itu, nanti kami musyawarahkan lagi, dan lain-lain lagi. Padahal sebenarnya dia berdusta membuat pelbagai alasan. Sebenarnya dia ada obsesi peribadai yang tinggi, atau dia menginginkan harta yang dia boleh perolehi dari dari si pelamar, atau boleh jadi juga dia memiliki sikap permusuhan dan rasa benci dengan si pelamar.

Ayyuhal ikhwah,

Sesungguhnya perwalian dalam pandangan agama adalah sebuah amanah yang wajib ditunaikan dengan cara yang baik. Ketika ada seseorang yang melamar, agamanya baik dan secara fizikalnya dia tidak bermasalah, dan si anak perempuan itu pula menyukainya, lalu ditolak dengan alasan-alasan dusta atau dengan alasan belum mampu dengan standard yang tinggi, ini adalah bentuk maksiat kepada Allah, mengkhianati amanah, dan mensia-siakan umur anak perempuan tersebut. Dan Allah akan menghisab perbuatan demikian di hari kiamat kelak. Allah Ta’ala berfirman,


يَوْمَ لا يَنْفَعُ مَالٌ وَلا بَنُونَ (88) إِلا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ

“Hari dimana tidak bermanfaat lagi harta dan anak-anak. Kecuali mereka yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih.” (Asy-Syu’ara: 88-89).

Ayyuhal ikhwah,

Adapun seseorang yang pernah menolak orang yang melamar anak perempuannya, maka disebabkan hal ini anak perempuannya itu pun jatuh sakit. Ketika hendak meninggal, si anak mengatakan kepada perempuan-perempuan yang menjenguknya, “Sampaikan salam kepada ayahku, tolong katakan padanya sesungguhnya antara dirinya dan Allah ada suatu hal yang dia akan disuruh bertanggungjawab pada hari kiamat. Dan hari kiamat itu tidaklah jauh”.

Renungkanlah! Betapa menyedihkan keadaan anak perempuan ini. Dan ketika dia disaat kematian itu pula dia memperingatkan ayahnya dengan peringatan yang amat berat. Kerana ayahnya menolak lamaran orang yang melamarnya dengan cara yang zalim. Apakah yang demikian ini ada kesan-kesan kasih sayang dan sebahagian dari agama? Apakah para wali ini merenungkan tindakan mereka menolak orang yang dicintai oleh anak mereka? Tidakkah orang-orang yang memiliki tanggungjawab dengan anak perempuan merenungkan perkara ini ketika mereka menolak seseorang yang mampu untuk merintis alam rumah tangga? Ahlaknya baik, dan agamanya bagus. Apakah harta yang banyak sebanding dengan kebaikan agama dan dunia anak perempuannya itu?

Subhanallah! Betapa kelirunya orang-orang yang berfikir sedemikian dan betapa murungnya nasib anak perempuan yang berada di bawah tanggungan mereka. Seandainya orang yang melamar anaknya adalah seseorang yang kurang baik, maka wajar dan tidak ada dosa bagi walinya untuk menolak lamaran tersebut.

Jika dia menginginkan hantaran yang mahal atau mas kahwin yang mewah, maka anaknya bukanlah barang dagangan yang diukur dengan harta kekayaan. Menikahkan anak perempuan itu bukanlah cara untuk memperoleh harta kekayaan. Hakikat yang perlu diperjelaskan disini, wanita itu tidaklah boleh dibandingkan dengan barang dagangan, mereka jauh lebih mulia. Mereka adalah amanah yang agung dan sebahagian dari keluarganya. Dia adalah sebahagian dari si ayah. Jika kita berfikir secara mendalam, maka kita akan menganggap harta tidak ada apa-apa nilai. Dan berlebih-lebihan dalam mahar dan hantaran tidaklah membawa kebaikan untuk mereka.

Mari kita kembalikan permasalahan ini dengan mencontohi Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya. Umar bin al-Khattab radhiallahu ‘anhu berkata,


أَلا لا تُغَالُوا فِي صَدَقَاتِ النِّسَاءِ ، فَإِنَّهَا لَوْ كَانَتْ مَكْرُمَةً فِي الدُّنْيَا وَتَقْوَى عِنْدَ اللَّهِ لَكَانَ أَوْلاكُمْ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- مَا أَصْدَقَ قَطُّ امْرَأَةً مِنْ نِسَائِهِ وَلا مِنْ بَنَاتِهِ فَوْقَ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ أُوقِيَّةً

“Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam menetapkan mahar perempuan. Jika (mahar yang tinggi) ini adalah bentuk kemuliaan di dunia dan taqwa di sisi Allah, pasti Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam menjadi orang pertama yang melakukannya. Namun beliau tidak memberikan mahar kepada isterinya dan tidak juga menetapkan untuk anak-anak perempuannya di atas 10 uqiyah.” 1 uqiyah sama dengan 40 dirham.

Ada seseorang yang diminta diberikan mas kahwin dalam jumlah yang besar untuk pasangannya, lalu lelaki itu pun memenuhinya, namun ianya dipenuhi dengan perasaan kesal. Sampai-sampai dia mengatakan, “Aku benar-benar terbeban kerana dirimu. Untuk menjalin hubungan kekerabatan pun harus membayarmu dengan harga yang mahal”. Kalau kita menyelidiki perbuatan salafus-soleh, bagaimana mereka meringankan mahar dan memudahkan pernikahan, niscaya keberkahannya itu semakin banyak, malah kedua pasangan itu pun boleh mendapatkan kebaikan darinya. Berlebih-lebihan dalam mahar merugikan para pemuda, baik laki-laki mahupun perempuan serta menjauhkan mereka dari pernikahan.

Ayyuhal ikhwah,

Sesungguhnya walaupun seseorang lelaki itu menyatakan dia mampu membayar mahar yang tinggi sepertimana yang ditetapkan keluarga si perempuan, percayalah, hal itu tetap membuatkan hatinya rasa tidak tenteram. Oleh kerana itu, saya mengajak tuan-tuan para para wali sekalian, untuk meringankan mahar. Kerana Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَعْظَمُ النِّسَاءِ بَرَكَةً أَيْسَرُهُنَّ مَئُونَةً

“Wanita yang paling banyak barokahnya adalah yang paling ringan maharnya”. (HR. Ahmad dan An-Nasa-i).

Ayyuhal ikhwah, wahai orang-orang yang bertakwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla,

Sesungguhnya banyak dari para wali, baik dari kalangan ayah atau selainnya, mensyaratkan agar orang yang melamar itu memberikan sesuatu barangan kepada mereka. Ini sebenarnya adalah bentuk kesalahan dan perbuatan yang memakan harta dengan cara yang batil. Seluruh mahar, diperuntukkan bagi isteri (calon pengantin perempuan), bukan kepada ayahnya, saudaranya, bapa saudaranya, atau sesiapapu dari kalangan walinya. Mereka tidak berhak. Perhatikanlah firman Allah Ta’ala berikut ini,


وَآَتُوا النِّسَاءَ صَدُقَاتِهِنَّ نِحْلَةً فَإِنْ طِبْنَ لَكُمْ عَنْ شَيْءٍ مِنْهُ نَفْسًا فَكُلُوهُ هَنِيئًا مَرِيئًا

“Dan berikanlah kepada perempuan-perempuan itu maskahwin-maskahwin mereka sebagai pemberian yang wajib. Kemudian jika mereka dengan suka hatinya memberikan kepada kamu sebahagian dari maskahwinnya maka makanlah (gunakanlah) pemberian (yang halal) itu sebagai nikmat yang lazat, lagi baik kesudahannya.” (An nisa: 4).

Dan dalam hadis, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


أَيُّمَا امْرَأَةٍ نُكِحَتْ عَلَى صَدَاقٍ أَوْ حِبَاءٍ (أَيْ: اَلْعَطِيَّةُ وَالْهِبَةُ) أَوْ عِدَّةٍ قَبْلَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لَهَا، وَمَا كَانَ بَعْدَ عِصْمَةِ النِّكَاحِ فَهُوَ لِمَنْ أُعْطِيَهُ، وَأَحَقَّ مَا أُكْرِمَ عَلَيْهِ الرَّجُلُ ابْنَتَهُ وَأُخْتَهُ.

“Wanita manapun yang menikah dengan mas kahwin, pemberian, atau bekalan sebelum akad nikah, maka itu adalah untuknya. Sedangkan yang diberikan sesudah akad pernikahan, maka itu untuk siapa yang diberikan kepada-nya. Dan kemuliaan yang paling berhak untuk diberikan kepada seorang lelaki adalah berkaitan dengan puterinya dan saudara perempuannya.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan lainnya).

Bertakwalah kepada Allah wahai hamba Allah, janganlah memberi syarat-syarat tertentu dalam meletakkan harga mahar ataupun selainnya ketika hendak melangsungkan pernikahan. Tidak ada hak bagi para wali untuk melakukannya. Jika Anda para wali melakukan hal itu, maka anda telah memperolehi harta dengan cara yang haram.

Dan bagi orang tua janganlah ia menyalah-gunakan amanah yang Allah berikan kepadanya berupa anak perempuan. Janganlah ia menjadikannya sebagai wasilah memperoleh harta tatkala hendak menikahkannya. Allah Ta’ala berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَخُونُوا اللَّهَ وَالرَّسُولَ وَتَخُونُوا أَمَانَاتِكُمْ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ. وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati (amanah) Allah dan RasulNya, dan (janganlah) kamu mengkhianati amanah-amanah kamu, sedang kamu mengetahui (salahnya).Dan ketahuilah bahawa harta benda kamu dan anak-anak kamu itu hanyalah menjadi ujian, dan sesungguhnya di sisi Allah jualah pahala yang besar.” (Al-Anfal: 27-28).

Sejarah telah berbicara tentang berbagai kisah yang boleh kita jadikan iktibar dalam meneruskan kehidupan. Sejarah pun mencatatkan perjalanan hidup para wanita muslimah yang teguh dan setia di atas keIslamannya. Mereka adalah wanita yang kisahnya terukir di hati orang-orang beriman yang keterikatan hati mereka kepada Islam lebih kuat daripada keterikatan hatinya terhadap kenikmatan dunia. Salah satu diantara mereka adalah Rumaisha Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin Adi bin Najar Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah. Beliau dikenali dengan nama Ummu Sulaim.

Ada seorang laki-laki yang bernama Abu Thalhah memberanikan diri untuk melamar beliau dengan tawaran mahar yang tinggi. Namun, Ummu Sulaim menyatakan dirinya tidak tertarik dengan gemerlapnya pesona dunia yang ditawarkan dihadapannya. Di dalam sebuah riwayat yang sanadnya sahih dan memiliki banyak jalan, terdapat pernyataan beliau bahawa ketika itu beliau berkata, “Demi Allah, orang seperti Anda tidak layak untuk ditolak, hanya saja engkau adalah orang kafir, sedangkan aku adalah seorang muslimah sehingga tidak halal untuk menikah denganmu. Jika kamu mahu masuk Islam maka itulah mahar bagiku dan aku tidak meminta selain dari itu.” (HR. An-Nasa’i).

Marilah kita meneladani Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya dalam seluruh permasalahan agama kita, termasuk dalam permasalahan pernikahan. Kerana pada merekalah sebaik-baik petunjuk.

1 comment:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PenaMinang.com tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui ruangan ini. Ia pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

Segala caci maki, kutukan, fitnah adalah antara anda dengan ALLAH Azza Wa'jal. Berilah komen dan kritikan yang membina. Insyallah kami akan cuba membalas komen-komen anda.

© 2008-2016 Pena Minang Institute