ARTIKEL TERKINI

SUNNAH

SYIAH

SASTERA

EBOOK

Sunday, 30 November 2014

10 MUHARRAM ADALAH HARI KEBINASAAN FIRAUN

Oleh : Nurfitri Hadi 
Terjemahan oleh : Jebat

Diriwayatkan dari Imam Bukhari dari Abdullah bin Abbas radiallahu ‘anhu, dia berkata, “Saat Nabi datang ke Madinah, baginda melihat orang-orang Yahudi berpuasa Asyura (10 Muharam). Lalu baginda bertanya, ‘Apa yang kalian lakukan?’ Mereka menjawab, ‘Ini adalah hari baik. Hari dimana Allah selamatkan Bani Israel dari musuhnya, maka Musa ‘alaihissalam berpuasa pada hari ini’.” (HR. Bukhari). Dalam riwayat Imam Muslim pula, ditambai “Sebagai ungkapan syukur kepada Allah Ta’ala, maka kami pun berpuasa”.

Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku lebih berhak keatas Musa dari kalian (kaum Yahudi). Maka baginda berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk melakukannya”. (HR. Bukhari).

Dalam riwayat Muslim “Ini adalah hari yang agung. Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya. Sedangkan Firaun dan kaumnya ditenggelamkan”.

Kisah binasanya orang-orang zalim yang terdapat di dalam Al-quran, seperti Firaun, kaum Nabi Nuh, kaum ‘Aad, kaum Tsamud, kaum Nabi Luth, dan lain-lain lagi. Kisah-kisah ini telah banyak memberikan pengajaran yang mendalam kepada kita. Mereka (yang zalim) tidak dibinasakan begitu sahaja sehingga kisah mereka mudah dilupakan, sehingga tidak meninggalkan pelajaran untuk dipetik. Allah membinasakan mereka dengan cara tertentu dengan kebijaksanaan-Nya sehingga mereka kekal dalam ingatan dan tidak dilupakan. Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً وَمَا كَانَ أَكْثَرُهُمْ مُؤْمِنِينَ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat suatu tanda kekuasaan Allah. Dan kebanyakan mereka tidak beriman.” (Asy-Syuara: 8).

Mengenai kaum Nabi Hudan dan Nabi Hud, Allah Ta’ala berfirman,


إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ * وَإِنَّهَا لَبِسَبِيلٍ مُقِيمٍ * إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآَيَةً لِلْمُؤْمِنِين

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memerhatikan tanda-tanda. Dan sesungguhnya kota itu benar-benar terletak di jalan yang masih tetap (dilalui manusia). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman. (Al-Hijir : 75-77) 

Tewasnya Firaun

Ketika Nabi Musa dikejar, Firaun memimpin pasukannya dengan penuh kesombongan. Dia begitu tertipu dengan kekuasaan yang dia miliki. Ketika melihat laut terbelah, bukannya dia teringat akan kekuasaan Allah yang jelas-jelas terpampang di hadapannya, Firaun malah bertambah sombong dan berusaha sekuat tenaga mengejar Nabi Musa. Setelah berada di tengah laut, Allah binasakan dia dan pasukannya dalam sekelip mata sahaja.

Kemudian Allah tidak menghancurkan jasad Firaun agar dijadikan sebagai pelajaran.


آلْآنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ. فَالْيَوْمَ نُنَجِّيكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُونَ لِمَنْ خَلْفَكَ آيَةً ۚ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ عَنْ آيَاتِنَا لَغَافِلُونَ

(Allah berfirman): "Adakah sekarang (baharu engkau beriman), padahal sesungguhnya engkau dari dahulu telah kufur derhaka, dan engkau telahpun menjadi dari orang-orang yang melakukan kerosakan?. "Maka pada hari ini, Kami biarkan engkau (hai Firaun) terlepas dengan badanmu (yang tidak bernyawa, daripada ditelan laut), untuk menjadi tanda bagi orang-orang yang di belakangmu (supaya mereka mengambil itibar). Dan (ingatlah) sesungguhnya kebanyakan manusia lalai daripada (memerhati dan memikirkan) tanda-tanda kekuasaan Kami!". (Yunus: 91-92)

Orang-orang yang beriman memandang hal ini sebagai kekuasaan Allah yang luar biasa. Keimanan mereka semakin bertambah dan semakin yakin bahwa Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

Peristiwa ini juga memberikan pengajaran kepada kita bahawa orang zalim itu akan binasa dengan kezaliman mereka walaupun sudah lama berkuasa. Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,


إِنَّ اللَّهَ لَيُمْلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمْ يُفْلِتْهُ قَالَ ثُمَّ قَرَأَ: وَكَذَلِكَ أَخْذُ رَبِّكَ إِذَا أَخَذَ الْقُرَى وَهِيَ ظَالِمَةٌ إِنَّ أَخْذَهُ أَلِيمٌ شَدِيدٌ

“Sesungguhnya Allah Ta‘ala betul-betul menangguhkan seksaan bagi orang yang berbuat zalim. Sampai tatkala Allah telah menghukumnya, maka Dia tidak akan melepaskannya.” Kemudian Rasulullah membaca ayat, “Begitulah seksaan Rabbmu apabila Dia menyeksa (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sesungguhnya seksaan-Nya itu sangat pedih lagi keras.” (Hud: 102).” (HR. Al-Bukhari no. 4318 dan Muslim no. 2583).

Sunnatullah terhadap orang-orang yang zalim ini terus berlangsung, tidak hanya terbatas pada umat-umat terdahulu saja. Allah Ta’ala berfirman,


وَكَمْ قَصَمْنَا مِنْ قَرْيَةٍ كَانَتْ ظَالِمَةً وَأَنْشَأْنَا بَعْدَهَا قَوْمًا آَخَرِينَ

“Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang teIah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya).” (Al-Anbiya: 11).

Sebagaimana sabda Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam kepada Abu Jahal di hari kematiannya “Ini adalah Firaunnya umat ini”.

Pada hari, karakter Firaun yang sama dapat kita perhatikan pada orang-orang semisalnya seperti Basyar al-Asad (Presiden Syria), dan pembunuh umat Islam di Bosnia, Presiden Serbia, Slobodan Milosevic, dan lain-lain lagi.

Penutup

Pada hari 10 Muharram, hari Asyura, Nabi sallallahu ‘alaihi wa sallam menganjurkan umatnya untuk berpuasa. Dengan demikian hari ini selalu diingati oleh umat Islam dan dijadikan pelajaran bahawa pertolongan Allah itu akan datang kepada orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sedangkan kezaliman itu akan pasti binasa.

2 comments:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

PenaMinang.com tidak bertanggungjawab terhadap komentar yang diutarakan melalui ruangan ini. Ia pandangan peribadi pemilik akaun dan tidak semestinya menggambarkan pendirian sidang redaksi kami. Segala risiko akibat komen yang disiarkan menjadi tanggungjawab pemilik akaun sendiri.

Segala caci maki, kutukan, fitnah adalah antara anda dengan ALLAH Azza Wa'jal. Berilah komen dan kritikan yang membina. Insyallah kami akan cuba membalas komen-komen anda.

© 2008-2016 Pena Minang Institute